Pola Asuh Tepat, Anak Cepat Pintar Ngomong, Lho!

Banyak aspek perkembangan anak usia dini, salah satunya perkembangan bahasa yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas diri. Terutama pada saat usia 0 – 6 tahun, perkembangan otak anak sangat peka terhadap rangsangan bahasa dari lingkungannya. Masa ini menjadi masa Golden Age dalam perkembangan kognitif dan bahasa.

Mengapa hal ini penting?

  • Dapat membantu anak mengekspresikan kebutuhan dan emosinya.
  • Menjadi dasar keterampilan literasi.
  • Mendukung cara berfikir (aspek kognitif) dan kemampuan bersosialisasi.

Tahukah kamu? Anak-anak itu seperti spons—mudah banget menyerap apa yang mereka dengar dan lihat, terutama pada fase usia dini. Nah, salah satu hal penting yang berkembang sangat cepat di usia ini adalah kemampuan bahasa dan komunikasi. Tapi, tahukah kamu hal apa yang paling berpengaruh dalam proses ini? Jawabannya adalah gaya parenting alias pola asuh orang tua!

Ngomong-ngomong soal anak pandai ngomong….

Anak-anak belajar bicara bukan hanya dari nonton tv atau menyanyikan lagu. Justru yang paling besar pengaruhnya adalah interaksi langsung—mulai dari ngobrol sama bunda, ayah, atau orang yang ada disekitarnya. Semakin banyak intensitas anak diajak ngobrol, mendengarkannya, memberi respon, justru semakin cepat dan bagus perkembangan bahasanya.

Oleh karena itu, pola asuh itu penting banget!

Setiap orang tua memang punya cara masing-masing dalam mendidik anaknya. Namun, secara umum, ada 3 model pola asuh yang sering dikenal:

  1. Demokratis (favorit anak-anak!)

Orang tua mampu terbuka, sering mengajak anak ngobrol, dan kasih kesempatan anak untuk berpendapat. Gaya ini akan membeuat anak merasa dihargai dan semakin percaya diri dalam bicara. Ini gaya pola asuh yang paling cocok buat mendukung kemampuan bicara.

  1. Otoriter (keras dan kaku)

Semua harus nurut ikuti aturan dan tidak ada diskusi. Pola asuh yang jarang memberi ruang anak untuk bertanya atau cerita. Terus akibatnya? Anak jadi pendiam, minder, atau tidak percaya diri saat bicara.

  1. Permisif (terlalu longgar)

Anak dibiarkan begitu saja, bebas mau bicara atau tidak, dan kurang dapat arahan. Gaya ini membuat anak bingung atau malah ngomong sembarangan tanpa mengetahui apa yang benar.

 

Terus ada faktor lain yang nggak kalah penting nih!

  • Rumah yang aktif ngobrol akan menciptakan anak cepat lancar bicara.
  • Sering bernyanyi dan baca buku cerita membuat kosakata anak bertambah.
  • Namun, kebanyakan waktu didepan gadget akan membuat interaksi menurun.

Nah loh? Orang tua yang sibuk sendiri, maka anak akan kurang mendapatkan stimulus.

So, apa yang bisa dilakukan orang tua sekarang?

Psikologi sosial juga menjelaskan kualitas interaksi sangat menentukan perkembangan bahasa anak. Orang tua dan pendidik perlu menciptakan lingkungan yang komunikatif dan penuh stimulasi serta menggunakan metode pembelajaran yang mendukung interaksi dua arah.

Anak yang sering diajak komunikasi, bercerita akan memiliki perkembangan bahasa yang lebih baik (Snow, 1999). Mulailah dari hal sederhana yaitu sering-sering ngobrol sama anak. Ajak mereka cerita tentang mainannya, bagaimana tentang hari ini di sekolah, atau bahkan tentang langit dan awan. Tidak perlu menggunakan bahasa tinggi—yang penting nyambung dan penuh kasih sayang. Dengan seperti itu, anak bukan cuma jago ngomong, tapi juga dapat melatih cara berpikir dan mengungkapkan isi hatinya.

Nah kesimpulannya?

Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang melibatkan dialog, serta kasih sayang yang ekstra dari orang tua akan membantu perkembangan kemampuan bahasa yang melesat. Ayok, jadi orang tua yang responsif dan seru untuk diajak ngobrol!

Leave a Comment