Alumna Islamic School terasa berbeda dari biasanya. Suara tawa riang terdengar dari setiap sudut kelas. Kali ini, bukan suara anak-anak saat belajar membaca atau berhitung, melainkan saat mereka bermain dalam kegiatan seru bertajuk “Fun Games Tradisional Day”!
Setiap hari Rabu memang menjadi momen spesial bagi ananda di Alumna karena ada sesi Fun Games, kegiatan rutin yang dirancang untuk melatih kerja sama, ketangkasan, dan kreativitas anak lewat permainan yang menyenangkan. Namun, ada yang istimewa kali ini, temanya adalah permainan tradisional Indonesia, dan permainan yang dipilih adalah congklak!
Kembali ke Permainan Zaman Dulu
Begitu guru mengeluarkan papan congklak berwarna cerah dan biji-bijian mungil dari wadah, mata anak-anak langsung berbinar. “Miss, ini permainan apa?” tanya salah satu anak dengan penasaran.
Guru pun mulai menjelaskan bahwa congklak adalah permainan tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu. Dahulu, anak-anak di kampung suka bermain congklak di sore hari sambil duduk di teras rumah atau di bawah pohon besar. “Jadi sebelum ada gadget dan game di layar, anak-anak dulu mainnya seperti ini,” ujar guru sambil tersenyum.
Penjelasan sederhana itu membuat anak-anak semakin semangat untuk mencoba. Dengan bantuan guru, mereka dibagi berpasangan, dan setiap pasangan mendapatkan papan congklak lengkap dengan biji congklaknya.
Serunya Belajar Lewat Permainan
Permainan pun dimulai! Anak-anak tampak serius menghitung lubang demi lubang di papan congklak, mencoba memahami aturan permainan yang ternyata seru sekaligus menantang. Saat satu anak berhasil mengumpulkan banyak biji di “rumahnya”, sorak gembira pun terdengar.
Yang menarik, permainan ini ternyata bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi juga melatih anak berhitung, mengasah strategi, dan belajar bersabar menunggu giliran.
Guru menjelaskan dengan cara yang mudah dipahami, “Kalau mau menang di congklak, kamu harus berpikir dulu sebelum meletakkan bijinya. Jadi ini bukan cuma permainan, tapi juga latihan otak!” Anak-anak pun manggut-manggut sambil tertawa.
Bahkan, beberapa anak terlihat asyik menghitung biji satu per satu dengan jari mereka, seolah sedang belajar matematika versi menyenangkan. Inilah yang membuat kegiatan Fun Games di Alumna selalu dinanti: setiap permainan membawa pelajaran berharga tanpa terasa seperti belajar formal.
Tawa, Antusiasme, dan Nilai Kebersamaan
Di sela permainan, terdengar tawa dan celoteh khas anak-anak. Ada yang saling memberi semangat, ada juga yang tertawa karena salah hitung atau lupa giliran. Semua suasana terasa hangat dan penuh keceriaan.
Guru pun sesekali memberikan pujian, “Wah, hebat! Sekarang kamu sudah bisa main congklak tanpa dibantu Miss.” Pujian sederhana itu membuat anak semakin percaya diri.
Selain mengajarkan berpikir strategis, congklak juga menjadi sarana yang bagus untuk melatih anak bersosialisasi dan bekerja sama. Mereka belajar bagaimana berinteraksi dengan teman, berbagi giliran, dan menghormati aturan permainan. Nilai-nilai kecil inilah yang diam-diam membentuk karakter anak menjadi lebih disiplin dan sportif.
Belajar Mencintai Permainan Tradisional
Kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kepada anak-anak tentang warisan budaya permainan tradisional Indonesia. Di tengah gempuran permainan digital dan gadget modern, congklak menjadi cara sederhana untuk mengajak anak kembali mengenal keseruan masa kecil yang penuh interaksi nyata.
Guru menjelaskan bahwa congklak bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari budaya bangsa yang perlu dijaga. Anak-anak terlihat antusias ketika tahu bahwa permainan ini juga dikenal di berbagai daerah Indonesia dengan nama yang berbeda. “Berarti ini permainan dari zaman duluuu banget ya, Miss?” kata seorang anak dengan mata berbinar.
Penutup yang Manis dan Bermakna
Setelah beberapa putaran permainan, kegiatan Fun Games ditutup dengan sesi refleksi ringan. Guru mengajak anak-anak berbagi pengalaman mereka. Hampir semua mengaku senang dan ingin bermain congklak lagi di minggu berikutnya.
“Saya suka congklak karena bisa main sama teman,” ujar seorang anak polos. Yang lain menimpali, “Saya suka karena bisa menang banyak biji!” Suasana kelas pun kembali pecah dengan tawa.
Di akhir sesi, guru mengingatkan bahwa bermain congklak bukan hanya tentang menang, tapi tentang belajar berpikir, bersabar, dan menghargai teman. Pesan itu disampaikan dengan lembut, sehingga anak-anak memahaminya dengan cara yang sederhana namun bermakna.
Hari itu, anak-anak pulang dengan wajah penuh senyum dan hati riang. Mereka membawa pengalaman baru, bermain sambil belajar dari permainan yang sudah ada jauh sebelum mereka lahir. Fun Games Tradisional kali ini membuktikan bahwa keseruan tidak harus datang dari layar digital. Kadang, cukup dengan papan congklak dan beberapa biji kecil, tawa dan kebahagiaan bisa hadir begitu saja.
